Selasa, 26 Oktober 2010

Jadikan Buku sebagai Kado, Galamedia,19 Desember 2008


Oleh: AJENG KANIA

CENDERAMATA kerap menjadi perhatian masyarakat. Di panggung nasional,Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) turut sibuk saat pernikahan KetuaMPR Hidayat Nurwahid dengan dr. Diana Abbas Thalib beberapa lalu,mereka meneliti kado kedua mempelai. Pasalnya, sebagai pejabatnegara, ada ketentuan tertentu batasan nominal bagi undangan bolehmemberi cenderamata.

Pada saat acara perpisahan nanti, siswa yang berakhir masa studinyadi sekolah tersebut secara pribadi, kelas atau angkatan akan memohonpamit meninggalkan bangku sekolah untuk melanjutkan studi ke jenjanglebih tinggi dan baru. Biasanya di antara mereka sibuk mempersiapkancenderamata yang unik, mahal, dan suprised. Mengapa tidak terpikirkanuntuk memberikan kado berbentuk buku?

Pemberian kado berupa buku, akan sulit diukur nilainya dibandingkanbentuk materi berupa uang atau barang. Buku melambangkan sumbersumber pengetahuan, bernuansa kultus akademis, mencerahkan, danjembatan ke arah pengembangan diri. Tentunya buku banyak ragamnya dantingkatan harganya. Ensiklopedi, kamus, biografi, buku motivasi,pengembangan diri, keterampilan/budi daya, wirausaha, spiritualitas,kesehatan, politik atau hukum adalah pilihan kemasan buku yang kinisemakin manantang, menarik, dan faktual.

Menggugah diri

Prasangka saya, pengalaman saat memberi buku pada seorang kawan saya,guru sekolah menengah pertama, adalah bentuk kekecewaan. Namun diluar dugaan, kawan saya merasa terharu, katanya baru kali ini iamendapat sebuah kejutan di ulang, tahun pernikahannya, kado berupabuku teks. Ia berterima kasih, selama ini ia hanya mengakrabi bukusebatas buku pelajaran dan LKS. Saya memberikan dua buah buku teks,yakni Kiat Menulis Artikel di Media (Dari Pemula sampai Mahir) karyaM. Arief Hakim dan Langkah Jitu Menuai Bisnis dari Nol, BambangSuharno. Secara materi harga buku tidak seberapa, namun sejak itu mampu menggugah dirinya menyenangi dan mulai mengoleksi buku-buku teks.

Memang, selama ini kita tak lepas dari paradigma bahwa buku dianggap"bahan belajar" untuk siswa dan mahasiswa. Setelah lulus dan bekerja,tak diperlukan lagi. Ini persepsi keliru dari masyarakat. Bukusebagai sarana belajar yang terus diperlukan, apalagi guru. Guruterus memperbaharui diri dengan banyak membaca buku sehingga memilikiwawasan luas, berketerampilan, dan konsens terhadap kemajuan.

Hambatan memiliki buku

Akan tetapi, membaca dan memiliki buku belum sepenuhnya menjadibudaya masyarakat. Kebiasaan masyarakat umumnya lebih sukamenghabiskan waktunya dengan kegiatan kurang produktif, sepertingerumpi, ngobrol atau main kartu. Dalam memperoleh informasi, merekalebih mengandalkan sebagai masyarakat pendengar (hearing society.Gempuran tayangan televisi begitu dahsyat, mengakibatkan daya tarik buku harus menggunakan kekuatan ekstra untuk tumbuh di masyarakat.

Harga buku masih tergolong mahal dan belum menjadi kebutuhanmasyarakat. Pada sebagian besar masyarakat, belum tertanam kebanggaandan semangat mengoleksi buku. Sebagai contoh, ibu-ibu rumah tanggalebih percaya diri bila ruang tamu diisi aksesori, perhiasan, danperabotan daripada buku. Seorang ayah merasa puas membawa anaknyamakan di kafe sebuah mal ketimbang mengunjungi toko buku, apalagimembeli buku.

Padahal, buku bagi pemiliknya merupakan simbol gaya hidup(lifestyle), yaitu gaya hidup cerdas (smart), toleran, dan inklusif.Bambang Trims menyatakan, buku hebat mampu mengharu biru perasaan,melambungkan imajinasi, menggedor spiritualitas, memompa motivasi,menggelitik rasa ingin tahu, dan memberikan seribu solusi. Sementara Barbara Tuchman mengatakan buku adalah mengusung peradaban. Tanpa buku, sejarah menjadi sunyi, sastra bisu, ilmu pengetahuan lumpuhserta pikiran dan spekulasi mandek.

Pendek kata, buku mampu memerangi dan menerangi dan bermanfaat bagi pembaca. Andaikata akan memberikan kado saat perpisahan bagi gurumu,tak perlu pusing mencari cenderamata surprised, cukup ke toko buku, pilihlah best seller, pengarang berkualitas, dan isinya berbobot serta memiliki relevansi dengan profesi gurumu atau bisa ditanya, kira-kira buku apakah yang diinginkan gurumu. Ini penting, jangan sampai tidak cocok atau dobel (sudah memiliki). Budaya ini bisa diterapkan di kalangan warga sekolah di saat-saat momen istimewa.Kado berupa buku, mengapa tidak?

(Penulis, guru kelas SDN Taruna
Karya 04, Kec. Cibiru Bandung)**

Rabu, 15 September 2010

Pentingnya Menanamkan Cita-cita, Galamedia, 20 Nov 2009


Oleh: AJENG KANIA

"Modal pertama yang Anda miliki adalah cita-cita. Cita-cita adalah soal sederhana, tetapi sebagian besar penduduk bumi paling malas memastikan cita-citanya. Bahkan para lulusan perguruan tinggi terbaik pun sebagian besar belum tahu ke mana arah perjalanan hidup mereka selanjutnya" (Philip E. Humbert)

DIDI Widiatmoko (Didi Petet) malah bingung ketika lulus SMA. Ia tidak memiliki cita-cita. Ayahnya ingin dirinya meneruskan kuliah di ITB. Tapi Didi tidak suka matematika, juga tidak suka IPA. Ia tidak menyenangi mekanika dan kimia. Akibatnya, ia harus istirahat sekolah selama dua tahun. Pertemanan dengan Harry Roesli membawanya main opera dan mampu menggugah mata hatinya. Saat itu Didi baru menyadari, dirinya lebih nyaman di dunia seni dan teater. Didi pun masuk Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan kini sukses sebagai aktor dan tercatat sebagai dosen di almamaternya.

Lain lagi dengan Pak SBY. Pak SBY kecil sangat terkesan kegagahan dan kedisiplinan taruna saat diajak sang ayah berkunjung ke Kesatriaan AMN di Magelang tahun 1961. Kejadian itu seketika menyalakan cita-citanya untuk menjadi tentara. Meskipun melalui pendidikan dan latihan berat, namun ia merasa senang dan hal itu dilalui dengan suka hati.

Dari dua contoh di atas, ternyata cita-cita dapat muncul melalui kejadian yang membekas, sehingga terpatri dan menjadi obsesi untuk diraih. Momen inspiring bisa diperoleh melalui pengalaman, eksplorasi, diskusi atau membaca cerita tokoh-tokoh hebat yang mengagumkan. Situasi ini akan menggugah siswa untuk mengagumi dan menumbuhkan cita-citanya. Peristiwa tersebut dapat mengubah drastis perangai siswa, yang awalnya pemurung dan malas, menjadi ceria dan bersemangat.

Tanpa tujuan, sering dijumpai siswa mengeluh karena kesulitan mengikuti suatu pelajaran di kelas. Akibatnya ia tidak menyenangi kegiatan belajar. Menganggap belajar sebagai sebuah beban. Hal ini bisa jadi diakibatkan guru yang tidak berhasil mengeksplorasi kelas sehingga suasana menjemukan. Lebih lanjut, dampak psikologis seperti membuat siswa membenci belajar akan menggiring pada kegagalan di kemudian hari.

Guru memiliki kewajiban untuk terus memotivasi dan menjaga semangat belajar siswa. Pembelajaran menggugah sangat penting diberikan guru untuk membukakan mata hati siswa. Siswa akan disadarkan tentang bakat dan talentanya sehingga mampu belajar dengan senang hati. Juga memandu mereka untuk memiliki cita-cita sesuai hobi dan bakatnya. Peristiwa menggugah harus dinyalakan agar siswa dapat memantapkan cita-citanya. Menentukan cita-cita meskipun hal sulit, tapi harus diupayakan dan dipantik agar siswa memiliki motivasi untuk meraihnya.

Untuk memberikan pelajaran yang bisa menggugah, dalam memberikan pembelajaran guru harus kreatif dan variatif. Selain pelajaran di kelas, pembelajaran berupa kunjungan, seperti ke museum, lembaga, institusi atau taman konservasi harus disisipkan. Hal ini akan memperkaya pengetahuan dan pengalaman siswa, sekaligus menggugah potensi siswa. Selain dengan kisah guru, siswa pun harus rajin membaca buku di perpustakaan, surat kabar maupun bacaan digital yang dapat memberi pencerahan dan pengayaan pengetahuan. Semakin banyak informasi diperoleh akan semakin terbuka mata hatinya menentukan pilihan cita-citanya. Memiliki cita-cita sejak dini akan sangat bermanfaat dan mudah bagi orangtua maupun guru untuk mengarahkan. Sebaliknya, banyak kegagalan dialami orang, karena tidak bisa mengeksplorasi bakat dan cita-citanya. Benar kata Humbert, cita-cita modal pertama untuk suskes. (Penulis, guru SDN Cibiru 5 Kec. Cibiru, Bandung)**

Jumat, 20 Maret 2009

PELAJARAN KEJUJURAN, Galamedia, 16 Januari 2009


Oleh: Ajeng Kania

Di bulan Agustus 2008, KPK menerbitkan buku Pendidikan Anti-Korupsi untuk kalangan siswa di berbagai jenjang sekolah. Nilai-nilai anti-korupsi tersebut di antaranya disiplin, sederhana, kerja keras, tanggung jawab dan kejujuran.

Kejujuran serasa barang mahal. Hampir di berbagai sudut kehidupan terkontaminasi penyakit ketidakjujuran. Praktik kecurangan, sikap tidak sportif, ingin untung sendiri, dan menghalalkan berbagai macam cara tak peduli orang lain dirugikan. Di kalangan pedagang acapkali terlibat mengakali timbangan atau takaran, POM bensin memainkan tera, wasit dan atlet olahraga yang harusnya menjunjung sportivitas sering diberitakan terlibat suap, atau di kalangan pengusaha lumrah memberi pelicin demi memuluskan bisnis mereka. Sementara pejabat seharusnya amanah, jabatan digunakan memperkaya diri sendiri dengan korupsi. Fenomena aktual, praktik penipuan berkedok investasi cukup marak mampu menghipnotis masyarakat untuk berduyun-duyun menanamkan uangnya dengan cara mudah untuk disulap menjadi berlipat ganda.

Benih-benih ketidakjujuran atau ketidaksportivan harus direduksi agar tidak berkembang luas menjangkiti jiwa dan mental anak-anak. Hal itu bukan semata tugas guru agama, tapi lingkungan keluarga memegang kunci utama melahirkan anak yang berkarakter terpuji. Di samping itu lingkungan sekolah seharusnya menjadi kawah candradimuka untuk mencetak bukan saja generasi cerdas namun takwa dan memiliki ahlakul karimah.

membohongi diri

Beberapa praktik kecurangan dan sikap tidak sportif itu, ternyata dapat tumbuh dan berkembang ketika didukung oleh lingkungan yang menyertainya. Perilaku menyontek tampak sekilas adalah hal sepele. Namun bila diresapi hal dapat membuat mental ketergantungan, malas, dan tidak memiliki daya juang kompetitif. Menjiplak (copy-paste) pekerjaan milik teman cenderung menjadi gaya dan budaya jalan pintas ketika harus memenuhi tugas guru di sekolah, akibatnya materi tugas tsb tidak dipahaminya. Ada kebiasaan unik, beberapa siswa suka membuat catatan kecil bukan rangkuman untuk dihapal, namun dipersiapkan untuk bahan contekan ketika ujian. Hasil survey dilakukan Prof. Buchari Alma cukup mencengangkan, dari survey itu dihasilkan hampir seratus persen mahasiswa pernah menyontek dalam ujian dan lebih separuhnya sering menyontek. Kebiasaan itu ternyata bukan saja terjadi pada murid SD tapi cenderung menjadi kebiasaan di berbagai jenjang sekolah. (PR, 30/5).

Seorang anak melakukan kebohongan biasanya bukan tanpa maksud tertentu. Dalam buku Changing Children’s Behavior karya Helen dan John Krumboltz dinyatakan bahwa seorang anak belajar berkata jujur atau bohong tergantung pada konsekuensi yang akan timbul setelah ia melakukannya. Bila konsekuensi yang ia dapatkan dalam berkata bohong berupa reward (ganjaran atau hadiah), dapat dipastikan bahwa anak akan mengulangi perbuatan itu. Sebaliknya, bila diperoleh konsekuensi punishment (hukuman), anak akan cenderung berhenti berbohong. Dengan demikian kebohongan itu tidak menjadi kebiasaan yang dibawa sampai dewasa.

melahirkan kepercayaan
Jujur menurut buku Pendidikan Anti-Korupsi Kelas 1 SMP/MTs (2008:48) berarti adanya keseimbangan dalam pikiran, ucapan dan tindakan; mengakui apa adanya; tulus, tidak culas dan lurus hati. Kejujuran pada diri sendiri adalah kejujuran pada pengakuan diri bahwa diri kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Anak harus diajari untuk jujur, sportif, dan bertanggung jawab. Hendaknya ditanamkan untuk tidak merasa gengsi bila benar-benar tidak tahu untuk berkata ”tidak tahu” dan minta diajarkan pada teman yang dirasa mampu. Kejujuran akan melahirkan kepercayaan.


Penulis, Ajeng Kania
Guru SDN Taruna Karya 04 Kec. Cibiru – Bandung

PENDIDIKAN ANAK BERBAKAT, Galamedia, 14 Nopember 2008


OLEH : AJENG KANIA

Siswa-siswi Indonesia mampu berprestasi di setiap pentas Olimpiade Sains internasional. Mereka bisa bersaing dan membawa pulang medali.


Menurut Ward (1980) dalam arti mikro, diperkirakan 1% (the top one tenth of 1 percent of the population) dari seluruh populasi bangsa terdiri orang berbakat (unggul). Diperkirakan satu persen dari populasi penduduk Indonesia yang rentang IQ (137< ke atas) merupakan manusia berbakat tinggi (highly gifted), sedangkan rentangnya antara 120-137, tercakup dalam rentang 10% di bawah satu persen itu disebut moderately gifted. Mereka inilah memiliki talenta akademik (academic talented) atau keberbakatan intelektual. Itu berarti dari jumlah 220 juta penduduk Indoensia ada sekitar 2,2 juta orang berbakat dalam arti intelektual.

Sayangnya, banyak sekali anak berbakat kurang mendapatkan perhatian sepenuhnya, karena memang terbelenggu oleh kurikulum yang berlaku. Pendidikan berkualitas ini tampaknya tidak dapat mengandalkan sepenuhnya kepada cara-cara yang menganut strategi massal dilakukan selama ini. Strategi ini menganggap bahwa semua anak didik adalah sama (identik) atau sekurang-kurangnya memiliki persamaan dalam kecepatan dan kemampuan belajar maupun perkembangan intelektualnya. Padahal dalam kenyataannya, kemampuan belajar mereka berbeda. Dalam strategi massal, siswa-siswa berbakat (unggul) muncul secara acak tidak mendapatkan layanan pendidikan secara khusus. Hal ini menyebabkan potensi intelektual dirinya kurang berkembang secara optimal.

Dalam buku Revolusi Cara Belajar II (The Learning Revolution), karya Gordon Dryden dan Jeannete Vos dikisahkan hampir saja Albert Einstein menjadi manusia gagal. Einstein kecil dikenal suka melamun. Guru-gurunya memvonis bahwa dia tidak akan pernah berhasil dalam bidang apapun. Begitu pun Thomas Alva Edison terpaksa harus dikeluarkan dari sekolahnya karena sejumlah pertanyaannya dianggap sering ’mempermainkan’ gurunya. Untunglah gaya belajar khas mereka, mampu diakomodasi orang dan lingkungan sekitarnya. Ibu Edison mampu menjadikan kegiatan belajar mengasyikan. Dia membuat permainan untuk mengajari anaknya dan membangkitkan Edison mengeksplorasi, bereksperimen dan mengajari dirinya sendiri.

Einstein dan Edison telah menemukan gaya belajar khas yang tidak sesuai dengan gaya sekolah mereka. Mereka mampu melewati hambatan dan mengubahnya menjadi tokoh besar berkontribusi bagi kemajuan dunia. Ketidaksesuaian semacam itu terus berlanjut hingga sekarang menimpa pada jutaan anak lainnya. Kalau tidak cermat, hal ini dapat menjadi pemicu kegagalan siswa bersekolah.

segera identifikasi
Dari dua kasus di atas, penjaringan anak berbakat seyogianya bagian tak terpisahkan dari program pendidikan nasional. Makin awal identifikasi anak berbakat, baik bakat intelektual maupun keberbakatan lainnya akan makin baik, karena besar kemungkinan anak mendapat bimbingan yang tepat dan menghindari salah perlakuan serta menghindari terjadinya penghamburan waktu, tenaga, modal dan intelektual siswa sebagai potensialitas untuk dikembangkan.

Agar identifikasi anak berbakat lebih objektif dan akurat, identifikasi ini diteruskan dengan tes psikologis yang telah dibakukan seperti tes intelegensi, tes kreativitas dan tes personaliti. Tentu saja tes ini harus dilakukan bersama psikolog sehingga interpretasinya dipertanggungjawabkan. Selain itu dapat juga dilakukan tes keberbakatan lain seperti bidang seni, kepemimpinan, atau olah raga dengan metode dan katerisistik masing-masing. Dengan bimbingan yang tepat, munculnya Einstein dan Edison baru dari negeri kita sebuah keniscayaan. Namun bimbingan saja tidak cukup, pemerintah dan swasta harus dapat menyediakan ruang beraktualisasi berupa fasilitas ketika mereka telah berhasil kelak.

Tanpa fasilitas, sistem, kesejahteraan, atmosfer dan relevansi pendidikan memadai, akan menyebabkan hijrahnya tenaga intelektual ke luar negeri (brain drain). Ini kerugian bagi bangsa! ! (**)

Penulis, Guru SDN Taruna Karya 04 – Cibiru –
Kota Bandung

SOSOK GURU PROFESIONAL, Galamedia, 26 September 2008


OLEH : AJENG KANIA

“Saya ingin menjadi “pengkhianat” terbesar tahun ini!” ucap pelatih sepakbola Rusia, Guus Hiddink menjelang pertandingan Rusia melawan Belanda yang tak lain negerinya sendiri di perempatfinal Piala Eropa 2008 beberapa bulan lalu.

Benarkah Hiddink seorang pengkhianat? Bila dimaknai sempit, boleh juga, buktinya tim Belanda harus menjinjing koper lebih pagi gara-gara ulah pelatih bertangan dingin ini. Kata “pengkhianat” dalam ucapan Hiddink di atas, tentu hanya sebuah metafora bukan dalam makna sesungguhnya. Hiddink bermaksud memotivasi anak asuhnya dengan menyuntikkan rasa keberanian menghadapi tim favorit, Belanda, maklum timnya masih trauma kalah oleh tim matador di laga perdananya.

Yang menarik penulis, bukan karena Rusia underdog bisa nyampei semifinal. Tapi Hiddink sebagai pelatih “profesional” mampu memosisikan diri antara profesionalisme dan kepentingan pribadi, termasuk nasionalisme. Sebagai seorang profesional, Hiddink tidak bimbang, ia bertanggung jawab pada timnya serta menjunjung sportivitas dan semangat fairplay. Untuk itu, Hiddink dibayar pantas sesuai kontrak yang telah disepakati.

Lalu bagaimana sebutan profesional bagi guru? Menurut KBBI, Guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya mengajar dan dimaknai sebagai tugas profesi. Untuk menjadi guru, seseorang harus memenuhi persyaratan profesional tertentu. Dalam hal ini, tidak semua orang bisa menjadi guru. Guru adalah pendidik yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi siswa dan memiliki standar kualitas pribadi tertentu mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri dan disiplin.

Seperti Hiddink, guru tetap menjaga integritas, aturan, ataupun profesionalisme sekalipun diiming-imingi hal menggiurkan. Idealisme seorang guru jangan pudar karena rayuan sms, titipan, atau ”bisik-bisik tetangga”. Kode etik profesi sebagai rujukan perilaku guru harus menjadi pedoman guru dalam melaksakana tugas secara obyektif, mandiri, dan profesional.

Kasus jual-beli buku pelajaran di kelas apalagi dengan nuansa pemaksaan dan ancaman nilai pada siswa harus dihindari. Menjual buku adalah profesi seorang sales/agen penerbitan, bukan guru. Seorang sales dikatakan profesional bila mampu menjual sesuai target. Bagi guru, tentu bukan dalam kapasitas menjual buku dikatakan profesional. Dengan berkembangnya informasi dan pengetahuan, sudah seyogianya guru tidak terpaku pada satu sumber belajar tertentu, tetapi memadukan satu buku dengan buku lain bahkan media cetak atau elektronik untuk saling melengkapi dan mengisi sehingga materi pembelajaran diberikan lebih kaya, atraktif dan kreatif. Seorang guru profesional tidak mempersalahkan apapun sumber buku yang dipakai, tapi kepiawaian memberikan materi lebih menentukan keberhasilan pembelajaran.

Kode etik profesi
Bagaimana jika guru terlibat dalam pembocoran soal ujian, profesionalkah? Secara etika, perilaku tsb mencoreng koprs guru sebagai figur kejujuran, bersih, dan suri tauladan. Dilihat aspek hukum, jelas termasuk ranah pihak kepolisian. Tindakan itu kerap terjadi sebagai upaya jalan pintas (shortkey) untuk mendongkrak angka kelulusan siswa. Tindakan itu tidak elegan dan tentu tidak profesional. Harusnya upaya meningkatkan prestasi siswa dilakukan oleh kesungguhan guru dan siswa dengan memberikan pengayaan, les, tugas, atau bimbingan belajar.

Guru profesional tentu segala perilaku diletakkan sesuai kode etik profesi. Sebutan profesi pada guru mengandung arti bahwa profesi guru tidak dapat dipegang oleh sembarang orang, tetapi memerlukan suatu persiapan melalui pendidikan dan pelatihan. Sementara profesional merujuk kepada penampilan seseorang dalam unjuk kerja.

Guru profesional akan tercermin dari tanggung jawabnya dan dedikasi pengabdiannya sebagai pribadi, sosial, intelektual, moral dan spiritual. Guru harus mampu memahami, mengelola, menghargai dan mengendalikan dirinya sendiri. Sebagai bagian masyarakat guru harus memberikan pengaruh positif, mencerahkan dan figur di masyarakat. Guru pun harus memiliki wawasan pengetahuan dan intelektual yang baik, tidak lekas puas, tetapi terus belajar dan mau berubah. Sebagai pertanggungjawaban moral dan spiritual diwujudkan oleh penampilan guru sebagai mahluk beragama yang senantiasa tidak menyimpang dari norma agama dan moral.

Sama seperti Hiddink, sebagai profesional guru pun layak dibayar pantas oleh masyarakat dan pemerintah, baik pengakuan atas martabat dan citra profesi guru maupun penghargaan imbalan materi yang memadai. (**)

Penulis, Guru Penjaskes
SDN Taruna Karya 04, Kec.
Cibiru – Bandung

REFLEKSI HARI PENDIDIKAN NASIONAL MENGUBAH WAJAH BANGSA MELALUI PENDIDIKAN, Galamedia, 6 Mei 2008


OLEH : AJENG KANIA

Ketika Uni Soviet berhasil mengorbitkan satelit Sputnik ke ruang angkasa tahun 1957, Presiden AS, John F. Kennedy bak tertampar muka, “Apa yang salah dengan dunia pendidikan kita?”

Keberhasilan rivalnya memaksa Kennedy bertindak cepat. Ia segera melakukan terobosan yakni memerintahkan penelusuran bakat dan potensi anak melalui program disebut “talent scouting” serta kembali menata dunia pendidikan AS dengan meningkatkan mutu pendidikan dan kesejahteraan pendidiknya. Hasilnya? Dalam kurun sepuluh tahun (1969), kerja kerasnya membuahkan hasil, AS tercatat sebagai negara pertama menjejakkan kakinya di bulan.

Sementara bangsa kita saat ini masih terjebak dalam pergumulan mencari identitas berkepanjangan. Di kalangan elite, terjadi cakar-mencakar dan saling menjatuhkan. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme tak kunjung mereda. Praktik kecurangan merasuki perikehidupan sehari-hari di masyarakat seolah menjadi hal lumrah adanya. Masyarakat pun mudah tersulut amarah, kebencian, iri dan dendam. Energi bangsa Indonesia terkuras oleh karut-marut perebutan kepentingan yang membuat bangsa ini sulit melangkah. Melihat potret bangsa di atas, memunculkan pertanyaan, apa yang “kurang” dengan pendidikan kita?

bangsa yang cerdas
Bangsa Indonesia sudah disegani dan termasuk bangsa berintelektual tinggi sejak zaman dulu. Di zaman Sriwijaya sudah menjadi salah satu pusat pendidikan terkenal, dikunjungi pelajar dari berbagai bangsa. Kerajaan Majapahit pun demikian, Mpu Prapanca dalam kitab ”Negarakertagama” (ditulis 1365 M) menggambarkan keluhuran budaya Majapahit dengan cita rasa halus dalam seni, sastra, juga kemajuan dalam kehidupan masyarakatnya sehingga disegani oleh bangsa-bangsa lain.

Hebatnya orang Indonesia, menurut buku Genom, yang ditulis Matt Ridley, ada nama Joe-Hin Tjio. Disebutkan Joe, orang Indonesia, telah berperan penting dalam upaya mengurai sandi-sandi yang tersimpan dalam DNA. Berkat temuannya itu, kini para ahli berhasil membaca karakter-karakter apa yang disimpan pada setiap pasang dari 23 sel kromosom manusia, mulai kecerdasan, konflik, stress, kepribadian, seks sampai kemampuan merakit diri.

Kemudian Yohanes Surya membawa putra-putri Indonesia asal Papua, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan Pulau Jawa, dalam tim olimpiade fisika Indonesia (TOFI) ternyata mereka tidak kalah pintar dengan bangsa asing. Kabar terbaru, tim fisika asuhan Surya menutup Olimpiade Fisika Asia (APHO) IX di Ulan Bator, Mongolia (20-28 April 2008) dengan prestasi mengesankan merebut 3 emas dan menempatkan Adam Badra Cahya (SMAN 1 Jember) meraih nilai tertinggi dalam olimpiade itu.


pendidikan sebagai panglima

Akan tetapi, bangsa kita belum menjadikan pendidikan sebagai panglima. Ada kesan setengah hati ketika dituntut konstitusi menganggarkan biaya pendidikan 20% APBN. Hal itu dibuktikan begitu alot dan melelahkan memutuskan besaran anggaran pendidikan negeri ini. Padahal sejujurnya, ibarat dagang, pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang menguntungkan, bukan saja “balik modalnya”, namun pelakunya jadi punya pengalaman , punya relasi, juga ruko tempat usaha pun akhirnya terbeli. Pendidikan merupakan hal paling fundamental, karena pendidikan menyentuh akar-akar kehidupan untuk mengubah dan menentukan kualitas hidup manusia.

Dengan anggaran memadai, tentunya mutu pendidikan dapat ditingkatkan. Sarana pendidikan, baik gedung sekolah, laboratorium, perpustakaan, alat peraga, maupun buku akan lebih representatif dalam menunjang proses pembelajaran. Guru-guru memperoleh kesempatan meningkatkan kualifikasi dan kompetensi, termasuk penghasilan memadai. Pemberian penghargaan terhadap guru dan siswa berprestasi digalakkan, seperti: beasiswa, dukungan melanjutkan studi, angka kredit, dsb sehingg memotivasi mereka berprestasi.

Tentunya, pendidikan bukan hanya mencetak manusia cerdas, namun ber-akhlakul karimah sehingga memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas moral dan spiritual bangsa. Untuk itulah, dunia pendidikan berikut stake-holder-nya harus menjadi institusi terdepan sebagai institusi bersih, dipercaya, dan berwibawa sehingga menjadi teladan bagi lembaga lain dalam menciptakan pemerintahan bersih dan berwibawa (good government). Proses di lingkungan dunia pendidikan seperti: rekrutmen pegawai/guru, kenaikan jenjang karier/mutasi, proses penerimaan/kelulusan siswa, dsb harus mencerminkan perilaku teladan bagi masyarakat dengan mengedepankan asas objektivitas, adil dan transparan. Habituasi ini penting mengingat dunia pendidikan menempati posisi strategis untuk mengubah wajah bangsa lebih bermartabat melalui perubahan cara berpikir dan berperilaku masyarakatnya.

Untuk memberikan pelajaran moral tentu guru-guru harus jadi panutan dan teladan. Pembinaan moral di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan bimbingan dan konseling atau pendekatan pada setiap mata pelajaran. Sementara pelajaran agama tidak berhenti pada upaya penyalehan individu, tetapi diperluas pada upaya penyalehan sosial-kemasyarakatan. Dengan sentuhan hati nurani ini diharapkan nilai-nilai moral terkandung dalam ajaran agama dapat membumi dan diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan yang dilakukan siswa sejak dini memiliki signifikansi terhadap perilaku mereka di masa depan.

Dengan terbentuknya generasi madani, bukan saja cerdas intelektualnya namun memiliki kecerdasan spiritual (SQ) dan kecerdasan emosi (EQ) terintegrasi diharapkan bangsa ini keluar dari multi-krisis berlarut-larut. Pendidikan terintegrasi membentuk manusia paripurna yang cerdas, jujur, amanah, dinamis, dan mengedepankan kepentingan bangsa dibanding kelompoknya. Dengan masyarakat madani terbentuk, kita memiliki energi yang cukup untuk melahirkan karya-karya fenomenal membanggakan. Kontribusi terhadap masyarakat dunia, membuat bangsa kita kembali disegani seperti AS dan Soviet, bukan?

Selamat Hardiknas, 2 Mei 2008!! (**)

Penulis,
Guru SDN Taruna Karya 04,
Kec. Cibiru – Bandung,
Pengurus AGP PGRI Jawa Barat

KOPERASI SYARIAH ALTERNATIF PEMBERDAYAAN MASYARAKAT, Galamedia, 14 Oktober 2008

OLEH : AJENG KANIA

Kita lebih kenal koperasi konvensional dibandingkan jenis syariah. Bila koperasi konvensional cenderung bersifat konsumtif, maka koperasi syariah mendorong anggotanya memanfaatkan dananya untuk kegiatan produktif. Sebuah solusi alternatif untuk memberdayakan masyarakat dan mengurangi pengangguran.

Koperasi didirikan sebagai usaha bersama untuk membebaskan rakyat dari jeratan lintah darat. Saat itu R. Aria Wiriatmadja di Purwokerto, Jawa Tengah (1896) mulai menerapkan sistem koperasi, Islamiah yang menjadi acuan. Akan tetapi, praktik tak Islami menerobos ke dalamnya terutama pengaruh campur tangan pemerintah kolonial yang mencurigai sebagai sumbu perlawanan rakyat pribumi.

Sebenarnya, mempraktikan koperasi perintah Allah SWT. Firman Allah SWT dalam (QS 59 : 7), Allah melarang berputarnya harta (modal) di kalangan orang-orang kaya saja. Merujuk pada ayat ini, aktivitas perekonomian hendaknya melibatkan partisipasi aktif dari kelompok masyarakat menengah ke bawah, sebagai mayoritas penduduk Indonesia. Usaha kecil dan menengah telah teruji mampu bertahan di situasi krisi sekalipun sekaligus mampu menyediakan lapangan pekerjaan bagi keluarga miskin dan mengurangi pengagguran.

Meskipun mengklaim bangsa religius, akan tetapi sering dijumpai berbagai anomali. Contoh sederhana, pengesahan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi (APP) atau pelabelan halal pada produk pangan untuk memberi kepastian konsumen ternyata masih berliku dan panjang. Padahal implementasi substansi kedua produk hukum itu dinilai ampuh melindungi kepentingan umat dari dekadensi moral maupun kepastian hukum halal-haram. Begitu pun, koperasi syariah merupakan barang baru, belum membumi di kalangan umat muslim kita. Pengembangan dalam skala massal masih tersendat-sendat.

Koperasi pola syariah ini baru menggeliat di tahun 2003. Fenomena menggembirakan, kini diikuti oleh hadirnya lembaga keuangan syariah seperti: bank syariah atau BPR syariah. Pada pola syariah tidak membebani anggotanya dengan bunga tapi pola bagi hasil keuntungan. Lebih jauhnya, koperasi jenis ini mampu menggali dan menggenjot pemberdayaan ekonomi di pedesaan, memunculkan investasi, membuka kesempatan kerja, membentuk entrepreneur (wirausahawan), meningkatkan daya-beli masyarakat pedesaan, serta pengelolaan ekonomi berbasis kesalehan sosial. Dengan pemberdayaan kegiatan pengembangan usaha, sehingga modal berkembang dan dapat mengangkat harkat dan kualitas hidup seseorang.

Hal ini sangat berbeda dengan koperasi konvensional yang mengarahkan anggotanya menggunakan dana pinjaman bagi sesuatu tidak kembali (konsumtif), seperti:membeli elektronika, perabotan rumah tangga, meubel hingga kendaraan. Pada akhirnya memberatkan keuangan keluarga dengan terpangkasnya sumber pendapatan untuk menopang kehidupan selanjutnya dan beban bunga atas pinjaman tersebut.

menggali potensi umat
Pemberdayaan koperasi syariah sangat strategis sebab bangsa Indonesia sebagian besar penduduknya muslim. Namun mereka kurang tersentuh oleh program pemberdayaan ekonomi masyarakat sehingga kemiskinan masih menjadi potret kehidupan masyarakat. Sebenarnya banyak warga yang memiliki keahlian di bidang tertentu, akan tetapi ketiadaan modal, kesempatan dan informasi membuat bakat dan kecakapan mereka terkubur begitu saja. Ketiadaan ruang beraktualisasi sangat disayangkan, padahal sejatinya potensi itu merupakan sumber energi berupa sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh bangsa untuk membangun.

Langkah awal dan mendasar untuk membangun potensi kekuatan umat dalam koperasi syariah dapat dilakukan di mesjid-mesjid dan pesantren atau rukun warga (RW) dan kelurahan. Untuk itu perlu beberapa langkah yang harus ditempuh pengurus mesjid atau lingkungan warga, seperti :
(a) memiliki data potensi jamaah atau warga meliputi data warga mampu atau miskin, mata pencaharian, dan latar belakang pendidikan maupun data standar seperti usia, jenis kelamin, dsb.
(b) mendata potensi ekonomi lingkungan sekitar. Analisis ini untuk menggiring pemilihan bentuk aktivitas ekonomi yang tepat. Apabila di pedesaan dengan mayoritas petani, dapat dikembangkan usaha pupuk atau alat-alat pertanian.
(c) menggandeng mitra dari bank Syariah atau BPRS Syariah atau Lembaga Keuangan Syariah. Hal ini penting untuk media syiar atau dakwah, memperluas pasar, dan tambahan sumber pembiayaan bagi koperasi.
(d) memperkuat jaringan ekonomi. Jaringan sangat penting sumber kekuatan umat dan sumber energi bagi koperasi bergerak dinamis

Kalau kita telaah, koperasi pola syariah bukan saja membebaskan rakyat dari jeratan rentenir, tapi memberdayakan masyarakat sehingga bermartabat. Pada gilirannya, kemakmuran rakyat bukan sekadar impian, namun mendekati kenyataan. (**)

Penulis,
Guru SDN Taruna Karya 04 Cibiru – Kota Bandung

Kamis, 12 Februari 2009

Berbijak dengan Uang, Galamedia, 6 Februari 2009


Oleh: AJENG KANIA

DALAM APBN 2009 gaji PNS mengalami kenaikan. Hal itu untuk menyesuaikan inflasi dan daya beli. Kenaikan itu akan sangat berguna jika kita berbijak pada uang.

ARUS globalisasi telah mendorong budaya konsumerisme, membuat orang sukar berpikir jernih tatkala berhadapan dengan uang. Dengan uang di tangan, orang cenderung menghabiskannya dalam waktu sesaat demi kepuasan. Bentuk dan rayuan iklan-iklan di berbagai tempat selalu menggoda dan menggelitik rasa penasaran. Tak heran fenomena itu mampu menghipnotis masyarakat untuk bersaing dalam gaya hidup dan konsumsi.

Bukan lagi rahasia, bila rencana kenaikan gaji selalu diikuti kenaikan harga kebutuhan pokok. Begitu pun tenaga marketing berbagai perusahaan ambil ancang-ancang berlomba menciptakan jurus jitu untuk menggaet konsumen sehingga mudah mengeluarkan isi dompetnya. Hal tersebut direspons sejumlah lembaga pembiayaan memberi kemudahan dalam hal pembiayaan, seperti kartu kredit (credit card, kredit kendaraan, mebel atau elektronik/leasing) atau pembiayaan tunai. Tentu fenomena ini dapat menggairahkan iklim dunia usaha. Akan tetapi pembiayaan tersebut umumnya ditujukan bukan untuk kegiatan produktif, namun cenderung bersifat konsumtif, sangat kondusif memanjakan semangat berbelanja.

Akibatnya budaya belanja kini menjadi bagian gaya hidup. Budaya tersebut mewabah dari anak kecil, remaja, orangtua, bahkan para lansia. Yang menjadi keprihatinan, budaya konsumtif tersebut didasari bukan lagi oleh logika kebutuhan (need), melainkan logika hasrat (desire) dan keinginan (want) menggebu-gebu. Banyak orang terjebak saat membeli sesuatu tanpa didasari pertimbangan matang, sehingga manfaat dan kegunaannya sering dipertanyakan kembali setelah produk tersebut dibeli.

Seni mengelola uang

Mengurus keuangan adalah seni. Bukan soal besarannya, tapi bagaimana mengelola setiap pendapatan yang diperoleh secara bijak. Kecerdasan finansial (FQ/financial quotient) dapat diperoleh dengan banyak membaca; menimba ilmu pada orang lain atau menjadikan peristiwa pernah dialami sebagai pelajaran. Dengan demikian seseorang tidak lekas panik saat kelebihan maupun kekurangan uang, tapi senantiasa bersikap jernih dalam berpikir dan bertindak.

Begitu pun, ibu rumah tangga harus berjuang ekstra memetakan keuangan terbatas untuk menyiasati hidup. Ibu rumah tangga harus pandai memilih dan memilah agar biduk terus berjalan, dalam arti anak-anak harus tetap sekolah dan asap dapur tetap mengepul. Pengelolaan keuangan walau sarat angka-angka, namun bukanlah matematika. Meski nominal uang terbatas, tetapi bila digunakan secara cerdas (smart) niscaya memberi manfaat lebih. Sekadar contoh, uang Rp 15.000 dapat dihabiskan seorang ayah satu kali makan plus minuman di kantin kantornya. Akan berbeda bila uang itu dibelikan masakan oleh istrinya, bisa memberi makan seluruh anggota keluarganya.

Menabung

Kecakapan ini perlu diasah sehingga mampu membentengi diri untuk tidak mudah hanyut dalam budaya konsumerisme. Ketika amplop gaji di tangan, usahakan tidak lantas pergi ke mal. Perencanaan dan pertimbangan yang matang di rumah bersama suami atau istri, dapat lebih jernih dan memberikan hasil lebih baik. Belanja tergesa-gesa seringkali tidak lebih sekadar arena menghambur-hamburkan uang secara percuma.

Satu hal cukup penting perlunya menabung. Menabung banyak bentuknya, baik secara konvensional di celengan atau dengan menyimpan dalam bentuk properti, sawah, di bank, dan polis asuransi. Di tengah budaya konsumerisme, godaan menyisihkan uang adalah pergulatan cukup hebat. Namun hal itu harus diperjuangkan, karena dengan memiliki tabungan, apa pun bentuknya, pasti memberi manfaat saat dalam menghadapi situasi sulit sekali pun. Tabungan pula yang membuat senyum kita bertambah lepas. Karena sejatinya, uang adalah sahabat paling menyenangkan, bukan menyulitkan. Maka berbijaklah.

(Penulis, guru SDN Taruna Karya 04 Kec. Cibiru Bandung)**